Monday, September 18, 2006

Water in a Row



From water...


to water...


to water.


Great trip to spend the weekend..
but why do I feel that I miss my common weekend, the weekend with "doing nothing all day"?
:D

Tuesday, September 05, 2006

Monday, August 28, 2006

Seni Itu Tidak Ada yang Salah

Itulah kata yang sering aku dengar dari Bagus, sang pakar batik, saat ngajarin para muridnya pertama kali belajar membatik. "Jangan takut salah, karena dalam seni tidak ada yang salah".... huhuhuhu... bijak banget nggak seh :P

Dan memang sebenarnya kalo dipikir-pikir tidak ada penilaian benar dan salah kan dalam seni, karena setiap orang bebas berekspresi. Yang ada hanyalah disukai atau tidak disukai oleh orang lain.

Tapi lalu bagaimana kalau ada karya seni yang tidak bisa dilihat hanya dalam konteks seni? ....

Pertanyaan ini muncul setelah akhir minggu kemaren aku ikutan dalam acara diskusi buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Secara umum banyak yang memuji novel tersebut. Tapi banyak yang mengembel2i pujiannya dengan kritikan. Banyak yang mempertanyakan sejumlah bagian dalam novel yang jika dipikir2 terasa tidak logis alur ceritanya.

Andrea Hirata berterima kasih atas semua kritik itu, dan mengakui ketidak-telitiannya dalam menulis. Namun saat ditanya apakah ia akan merevisi novelnya?... dengan tegas dia bilang: "TIDAK". Dia menginginkan novel itu tetap seperti apa adanya sekarang, agar orang tahu bahwa dalam usahanya menghasilkan sebuah karya, dia berproses dan menjadi lebih matang dengan melakukan kesalahan2. Dan itulah karya otentik yang telah ia buat.

Yah, dalam hal sebuah karya seni berupa novel yang kisahnya bukan kisah absurd atau surealis, mau nggak mau akan ada penilaian dari segi logika yang sesuai dengan realitas. Review2 yang selama ini aku tulis, juga sering menyoroti soal logika cerita. Kalo nggak masuk akal bakal aku serang habis2an :D

Tapi entah kenapa, saat membaca Sang Pemimpi, aku rasanya hanyut dan terhipnotis oleh emosi setiap kisahnya. Detil dan logika cerita yang nggak nyambung dan banyak dikritik orang sama sekali tidak aku pedulikan. Aku baru sadar adanya ketidaklogisan itu saat mendengar orang lain mengulasnya. Dan aku nyaris berkata: "ah, sudahlah... itu nggak terlalu penting kan? Nikmati sajalah keindahan ceritanya...".

Padahal di review untuk Laskar Pelangi, aku begitu bawel menguliti satu demi satu ketidak-logisan dari cerita yang ditulis Andrea Hirata. Dan sampai sekarang tetep nggak rela kalau Laskar Pelangi dipuji2 terlalu tinggi :P

Entahlah, kenapa bisa timbul standar ganda gini ya?
...... *bingung*